ZEASANTIN DARI MIKROALGA:
BIOSINTESIS DAN PEMANFAATANNYA
Dispanstiani Abidin dan Ferry Karwur*)
ABSTRAK
Karotenoid merupakan pigmen alami yang disintesis oleh semua organisme fotosintetik, serta sejumlah bakteri dan jamur non-fotosintetik. Ada dua pengelompokan karotenoid alami: (1) karoten, seperti β-karoten dan α-karoten, dan (2) santofil. Umumnya santofil seperti violasantin, antherasantin, zeasantin, neosantin, dan lutein diproduksi oleh tumbuhan tingkat tinggi, namun juga dapat disintesis oleh mikroalga hijau. Zeasantin merupakan salah satu pigmen yang berperan penting dalam pencegahan penyakit degenerasi makular akibat usia (AMD). Produksi
zeasantin dapat dilakukan oleh beberapa mikroalga seperti Spirulina sp., Dunaliella salina, Chlamydomonas reinhardtii, Synechocystis, Microcystis aeruginosa, dan Porphyridium cruentum.
Artikel ini akan membahas mengenai biosintesis zeasantin serta pemanfaatannya.
PENDAHULUAN
Karotenoid adalah poliena isoprenoid yang tersusun dari 8 unit isoprena C5 (Gross, 1987).
Karotenoid dibagi menjadi dua kelompok yaitu karoten dengan rumus hidrokarbon C40H56 dan turunannya yaitu santofil. Santofil meliputi v iolasantin, antherasantin, zeasantin, neosantin, dan lutein (Gross, 1991).
Hampir semua organisme fotosintetik seperti tumbuhan, alga, dan bakteri fotosintetik mengakumulasikan karotenoid pada periperal antena yang terletak pada membran fotosintetik. Pada antena, karotenoid berfungsi sebagai light harvester untuk menyerap cahaya yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar pada mesin fotosintesis. Fungsi karotenoid sebagai photo-protection (fotoprotektor) bertujuan menghindari terbentuknya singlet-oxygen yang sangat berbahaya.
Dari segi manfaat, karotenoid pada manusia memberikan perlindungan sel dari efek karsinogenesis radikal bebas seperti kanker dan penyakit jantung. Kajian ilmiah ini bertujuan mengetahui biosintesis pigmen zeasantin serta pemanfaatannya sehingga dapat diketahui fungsi zeasantin lebih luas. Artikel ini akan membahas mengenai: jalur biosintesis, sumber zeasantin dari mikroalga, serta pemanfaatan zeasantin.
Nama lain zeasantin adalah (3R,3’R)-β,β-karoten- 3,3’-diol. Zeasantin memiliki formula C40H56O2, berwarna oranye dan kuning (Nelis and DeLeenheer 1991; Handelman et al., 1999; Humphries & Khachik, 2003). Zeasantin tidak menunjukkan aktivitas vitamin A. Zeasantin dan lutein memiliki hubungan dekat yang memegang peranan penting dalam pencegahan penyakit degenerasi makular akibat usia (AMD), serta penyebab kebutaan (Hadden et al., 1999).
Zeasantin merupakan molekul seperti poliena yang memiliki 9 ikatan karbon tunggal dan rangkap terkonjugasi. Ketika dieksitasi dengan cahaya monokromatik menunjukkan karakteristik panjang gelombang yang elastis dengan hamburan cahaya balik, disebabkan oleh vibrasi dalam struktur kimianya. Dua karakteristik puncak karotenoid menunjukkan adanya gerakan vibrasi molekul pada ikatan tunggal karbon 1159 cm-1 dan ikatan rangkap karbon dengan vibrasi 1525 cm-1 (Bhosale et al., 2003).
Afinitas absorpsi ditentukan oleh panjang kromofor dan polaritas dari gugus fungsionalnya. Semua isomer 113 trans memiliki serapan yang kuat pada panjang gelombang 400-500 nm, sedangkan isomer cis menunjukkan serapan pada wilayah UV, sekitar 320 nm (Rodriguez-Amaya, 2001). Spektrum tampak dari zeasantin menyerupai β-karoten.Serapan sinar ultraviolet dan sinar tampak zeasantin dapat dilihat pada
Tabel 1 dan Gambar 2.
JALUR BIOSINTESIS
Biosintesis karotenoid berawal dari farnesil piropospat (FPP), yang berasal dari dua prekursor, isopentenil piropospat (IPP) dan dimetilalil piropospat (DMAPP). Secara umum, ada dua jalur untuk
Gambar 1. Struktur kimia zeasantin (Britton, 1995).
mensintesis IPP dan DMAPP yaitu mevalonate (dimulai dengan asetil KoA) dan non-mevalonate (dimulai dengan piruvat dan glyceraldehyde-3-pospat). Biosintesis karotenoid pada mikroalga menggunakan jalur non-mevalonate (Yuan et al., 2006). Prekursor isoprena dari karotenoid dan semua terpenoid adalah isopentenil piropospat (IPP). IPP diisomerisasi menjadi DMAPP, lalu DMAPP berikatan dengan IPP
membentuk C10 geranil piropospat (GPP). GPP bergabung dengan 2 molekul IPP membentuk C15 FPP, FPP bergabung lagi dengan IPP membentuk C20 geranilgeranil piropospat (GGPP). GGPP digunakan
untuk membentuk diterpen, seperti karotenoid (Gross, 1991).
Karotenoid Pelarut λ max nma
Aseton (430) 452 479
Kloroform (433) 462 493
Etanol (428) 450 478
Petroleum eter (424) 449 476
Zeasantin
Tabel 1. Serapan sinar ultraviolet dan sinar tampak dari zeasantin
a tanda kurung menunjukkan bahu, Sumber : Britton, 1995
Gambar 2. Pola spektra zeasantin, pelarut aseton (Davies, 1976; Britton, 1995).
300 400 500 600
0,0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
Absorbansi (A.U)
Panjang Gelombang (nm)
Squalen Vol. 4 No. 3, Desember 2009
114
Tahap unik pertama pada biosintesis karotenoid adalah kondensasi 2 molekul GGPP menjadi fitoen. Senyawa ini dibentuk oleh C40 siklopropana intermediet, prefitoen piropospat (PPPP) (Altman et al., 1972). Dari fitoen, likopen dapat dibentuk dengan cara dehidrogenasi. Pada tiap tahap proses dehidrogenasi, kromofor diperpanjang oleh 2 ikatan rangkap secara bergantian dari salah satu sisinya. Siklisasi juga terjadi pada karoten yang memiliki minimal ikatan rangkap pada C-7 dan 8. Pemasukan gugus fungsi oksigen, hidroksi, dan epoksi terjadi setelah proses siklisasi yang merupakan tahap akhir dari biosintesis ketika karoten dioksidasi. Perbedaanperbedaan dalam hal reaksi siklisasi, dehidrogenasi, dan oksidasi menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam jenis karotenoid yang dihasilkan (Gambar 3). Enzim yang terlibat dalam jalur biosintesis ini adalah
CrtE, CrtB, CrtL (likopen), CrtY (β-karoten), dan CrtZ
(zeasantin) (Yuan et al., 2006).
Beberapa penelitian biosintesis santofil dilakukan dengan alga dan bakteri. Pada tumbuhan tingkat rendah seperti halnya pada mikroalga, zeasantin dibentuk melalui hidroksilasi β-karoten. Karotenoid epoksi dapat dibentuk dari oksidasi karoten atau santofil. Sebagai contoh violasantin yang dibentuk dari epoksidasi zeasantin melalui antherasantin, yang merupakan suatu monoepoksi (Davies et al., 1970).
Pada mutasi alga hijau Chlamydomonas reinhardtii (Niyogi et al., 1997) ditemukan gen penyandi tunggal untuk enzim epoksidase zeasantin. Gen tunggal tersebut bertanggung jawab pada biosintesis yaitu dari violasantin selama pertumbuhan dan reaksi epoksidasi yang mendorong ke arah reaksi balik (reversible) dari zeasantin melalui antherasantin ke violasantin setelah adanya tekanan cahaya (Niyogi et al., 1997; Jin et al., 2003).
Pada mikroalga, kandungan zeasantin diregulasi oleh radiasi cahaya. Jika radiasi cahaya berlebihan pada fotosintesis maka akan mengakibatkan saturasi dalam kloroplas yang memicu terjadinya reaksi de-epoksidasi violasantin berbalik (reversible) ke bentuk antherasantin, dan selanjutnya mengakumulasi zeasantin dalam tilakoid kloroplas. Enzim yang mengkatalisis reaksi tersebut adalah violasantin de-epoksidase yang berada dalam lumen tilakoid kloroplas (Hager & Holocher, 1994).
Jika cahaya yang diserap lebih rendah dari yang diperlukan pada fotosintesis, zeasantin dikonversi kembali ke violasantin oleh enzim zeasantin epoksidase dengan monoepoksida antherasantin yang menjadi perantara dalam proses oksidasi-reduksi (Hager, 1980). Siklus santofil penting untuk perlindungan komponen fotosintesis dari fotooksidasi zeasantin, antherasantin Gambar 3. Senyawa prekursor, karoten utama, santofil dan enzim yang terlibat pada jalur biosintesis karotenoid. DMAPP: dimetilallil piropospat; FPP : farnesil piropospat; GGPP : geranilgeranil piropospat; IPP : isopentenil piropospat; crtE dan crtB: tidak berwarna; crtL: likopen (merah muda); crtY: β-kaoten (oranye); crtZ: zeasantin (kuning) (Yuan et al., 2006).
D. Abidin dan F. Karwur 115 dan violasantin yang berhubungan dengan pemanen cahaya (Demmig-Adams & Adams, 1992).
Zeasantin mampu menggantikan hilangnya epoksi karotenoid, antherasantin, violasantin, dan neosantin sebagai komponen kestabilan pemanenan cahaya (LHC II). Secara genetika, bakteri dan tumbuhan pada jalur biosintesis zeasantin, kantasantin, dan astasantin memberikan alternatif yang menarik dalam produksi secara in vivo (Misawa, 1995a, 1995b; Misawa & Shimada, 1998). Sebagai contoh, alga biruhijau dapat direplikasi pada plasmidnya dengan gengen endogen oleh rekombinasi homolog (Lagarde et
al., 2000).
Synecocystis sp. strain PCC 6830 telah digunakan sebagai transformasi inang untuk memproduksi zeasantin in vivo. SUMBER ZEASANTIN DARI MIKROALGA Dunaliella salina Beberapa mikroalga menghasilkan zeasantin (Ruther et al., 1997; Jin et al., 2003). Produksi zeasantin strain mutan zea1 ari Dunaliella salina dapat dipertimbangkan dalam eksploitasi komersial (Jin et al., 2001, 2003). Strain mutan ini memiliki kekurangan dalam tahap epoksidasi-zeasantin. Mutan zea1 kekurangan neosantin, violasantin, dan antherasantin tetapi mengakumulasi zeasantin dalam membran tilakoid di bawah kondisi pertumbuhan normal. Di bawah kondisi cahaya rendah, strain mutan memiliki kandungan zeasantin 15 kali lebih tinggi daripada tipe liar. Salah satu usaha untuk menghasilkan produksi zeasantin adalah menggunakan mesin metabolisme strain E.coli dengan menghasilkan zeasantin 1,6 mg/g dari berat kering (Albrecht et al., 1999; Jin et al., 2003). Synechocystis sp. Zeasantin pada Synechocystis sp. PCC6714 berada di luar membran. Pada percobaan untuk meningkatkan akumulasi zeasantin pada prokariotik fotoautotrofik Synechocystis sp. strain PCC 6803, digunakan gen-gen yang terlibat dalam sintesis karotenoid. Synechocystis sp. dapat meningkatkan akumulasi zeasantin pada strain mutan hingga 2,5 kali. Dengan menggunakan gen psbAII, organisme tersebut mengkode ekspresi protein D1 dari fotosistem II dan merupakan promotor yang kuat. Genom Synechocystis mengandung 3 gen pengkode protein D1 yaitu psbAI, psbAII, dan psbAIII. Lokus psbAII dapat digunakan sebagai bentuk integrasi ekspresi gen pada Synechocystis sp. (Lagarde et al., 2000).
Microcystis aeruginosa
Mikroalga Microcystis aeruginosa dapat memproduksi zeasantin (Chen et al., 2005).
Spirulina
Spirulina biasa digunakan sebagai pakan alami dalam budidaya udang. Satu parameter penting dalam budidaya udang yaitu adanya peningkatan produksi zeasantin yang ditandai warna kulit karapaks.
Zeasantin merupakan salah satu karotenoid utama pada Spirulina yang dengan cepat dikonversi menjad iastasantin (Liao et al., 1993). Spirulina juga meningkatkan pewarnaan kuning dan merah ayam petelur karena akumulasi zeasantin (Toyomizu et al., 2001).
PEMANFAATAN ZEASANTIN
Pemanfaatan karotenoid secara epidemiologi berhubungan dalam menurunkan resiko beberapa kanker dan AMD (Perez-Galves et al., 2003). Karotenoid dilaporkan penting sebagai faktor pelindung dalam epitelium retina pada bayi. Selain itu, penggunaan zeasantin dalam kosmetik, khususnya sebagai pelindung matahari, adalah sejalan dengan fungsi alami sebagai pelindung sel dari fotosensitisasi. Sejauh ini, pemanfaatan lain dari zeasantin yang dilaporkan adalah: Mencegah Age-related Macular Degeneration (AMD)
AMD merupakan penyebab kebutaan pada orang dewasa karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada pusat retina dan makula, yang akhirnya mendorong ke arah hilangnya kemampuan melihat. Lutein dan zeasantin berperan dalam pencegahan AMD. Zeasantin terakumulasi pada daerah makular retina manusia, di mana akan mencegah kerusakan oleh energi tinggi pada cahaya biru melalui karakteristik antioksidannya (Britton, 1995; Handelman et al., 1988; Snodderly, 1995).
Menghambat Oksidasi LDL
Karotenoid memegang peranan penting dalam menghambat makrofag dalam oksidasi LDL. Ketika zeasantin diinkubasi dengan makrofag-monosit manusia selama 24 jam dengan lipoprotein (LDL) rendah telah ditemukan dapat menghambat oksidasi LDL pada konsentrasi tertentu, sehingga zeasantin memperlambat terjadinya atherosklerosis (Keri et al., 1997). Squalen Vol. 4 No. 3, Desember 2009 116
Mencegah Kanker
Zeasantin dapat mencegah kanker. Secara spontan karsinogenesis liver dalam C3H/ He pada mencit jantan telah diuji ketika diberi makan 40 wk zeasantin pada konsentrasi 0,005% dan dicampur sebagai emulsi dalam air minum (Nishino et al., 1999;
Perez-Galves et al., 2003).
Pigmentasi pada Ternak Unggas dan Ikan
Zeasantin lebih banyak digunakan dalam meningkatkan pewarnaan pakan ternak dan ikan karena potensinya sebagai pewarna dan memiliki kemampuan dapat diserap dalam daging dan telur (Orndorff et al., 1994). Zeasantin 1,5 kali lebih kuat daripada lutein. Beberapa ikan dan krustasea, seperti udang dan ikan mas dapat mengubah zeasantin ke pigmen berwarna merah yaitu astasantin. Hal ini menunjukkan bahwa memberi makan pada ikan dan udang-udangan dari zeasantin tersebut dapat meningkatkan warna merah yang diinginkan (Gierhart, 1994).
PENUTUP
Zeasantin sangat berperan pada pencegahan AMD, menghambat oksidasi LDL, mencegah kanker dan pigmentasi pada ternak unggas dan ikan. Sumber zeasantin dapat ditemukan pada Spirulina sp., Dunaliella salina, Chlamydomonas reinhardtii, synechocystis, Microcystis aeruginosa, dan Porphyridium cruentum. Perlu adanya peningkatan pengelolaan pemanfaatan mikroalga sebagai salah satu sumber zeasantin.
DAFTAR PUSTAKA
Albrecht, M., Misawa, N., and Sandmann G. 1999.
Metabolic engineering of the terpenoid biosynthetic
pathway of Escherichia coli for production of the
carotenoids β-carotene and zeaxanthin. Biotechnol.
Lett. 21:791–5.
Bhosale, P., Ermakov, IV., Ermakova, M.R., Gellermann,
W., and Bernstein, P.S. 2003. Resonant raman
quantification of zeaxanthin production from Flavobacterium
multivorum. Biotechnol. Lett. 25:1007–11.
Britton, G. 1995. Structure and properties of carotenoids
in relation to function. FASEB. J. 9:1551–8.
Chen, F., Li , HB., Wong, RN., Ji, B., Jiang, Y. 2005.
Isolation and purification of the bioactive carotenoid
zeaxanthin from the microalga Microcystis
aeruginosa by high-speed countercurrent chromatography.
J. Chromatogr. A. 1064 (2):183–6.
Davies, B.H. 1976. Carotenoids. In: Goodwin TW, editor.
Chemistry and Biochemistry of Plant Pigments. 2nd
ed. London, U.K.: Academic Press. 38 pp.
Demmig-Adams, B., Adams, W.W. 1992. Photoprotection
and other responses of plants to high light stress.
Ann. Rev. Plant. Physiol. Plant. Mol. Biol. 43:599–
626.
Gierhart, D.L. 1994. Applied Food Biotechnology Inc.,
Production of Zeaxanthin and Zeaxanthin-Containing
Compositions. U.S. patent 5,308,759.
Giraudat, J., Parcy, F., Bertauche, N., Gosti, F., Leung, J.,
Morris, P.C., Bouvier-Durand, M., and Vartanian, N.
1994. Current advances in abscisic acid action and
signalling. Plant Mol Biol 26:1557–77.
Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press Inc.
London.
Gross, J. 1991. Pigment in Vegetables : Chlorophylls
and Carotenoids. Van Nostrand Reinhold, New York.
Hadden, W.L., Watkins, R.H., Levy, L.W., Regalado, E.,
Rivadeneira, D.M,, van Breemen RB., and Schwartz,
S.J. 1999. Carotenoid composition of marigold
(Tagetes erecta) flower extract used as nutritional
supplement. J. Agric. Food. Chem. 47:4189–94.
Hager, A. 1980. The reversible, light-induced conversions
of xanthophylls in the chloroplast. In: Czygan FC,
editor. Pigments in Plants. Stuttgart: Fischer. p. 57–
79.
Hager, A. and Holocher, K. 1994. Localization of the xanthophyll-
cycle enzyme violaxanthin deepoxidase
within the thylakoid lumen and abolition of its mobility
by a (light dependent) pH decrease. Planta
192:581–9
Handelman, G.J., Dratz, E.A., Reay, C.C., and Kuijk, FJGM.
1988. Carotenoids in human macula and whole
retina. Invest. Opthalmol. Vis. Sci. 29:850–55.
Handelman, G.J,, Nightingale, Z.D., Lichtenstein, AH.,
Schaefer, E.J., and Blumberg, J.B. 1999. Lutein
and zeaxanthin concentrations in plasma after dietary
supplementation with egg yolk. Am. J. Clin. Nutr.
70:247–51.
Humphries, J.M. and Khachik, F. 2003. Distribution of
lutein, zeaxanthin, and related geometrical isomers
in fruit, vegetables, wheat, and pasta products. J.
Agric. Food. Chem. 51: 1322–7.
Jin, E.S., Polle, JWE., and Melis, A. 2001. Involvement of
zeasantin and of the Cbr protein in the repair of photosystem-
II from photoinhibition in the green alga
Dunaliella salina. Biochim. Biophys. Acta. 1506:244–
59.
Jin, E.S., Feth, B., and Melis, A. 2003. A mutant of the
green alga Dunaliella salina constitutively accumulates
zeaxanthin under all growth conditions. Biotech.
Bioeng. 81:115–24.
Jurgens, U.J. and Weckesser, J. 1985. Carotenoidcontaining
outer membrane of Synechocystis sp.
strain PCC6714. J. Bacteriol. 164(1):384–9.
Keri, L., Carpenter, H., Veen, C., Hird, R., Dennis, IF.,
Ding, T., and Mitchinson, MJ. 1997. The carotenoids
â-carotene, canthaxanthin and zeasantin inhibit macrophage-
mediated LDL oxidation. FEBS 18094 FEBS
Lett 401:262–6.
Lagarde, D., Beuf, L., and Vermaas, W. 2000. Increased
production of zeasantin and other pigments by
D. Abidin dan F. Karwur
117
application of genetic engineering techniques to
Synechocystis sp. strain PCC 6803. Appl. Environ.
Microbiol. 66:64–72.
Liao, W.L., Nur-E-Borhan, S.A., Okada, S., Matsui, T., and
Yamaguchi, K. 1993. Pigmentation of cultured black
tiger prawn by feeding with a Spirulina supplemented
diet. Nippon Suisan Gakkaishi/Bull Japan Soc. Sci.
Fisher. 59:165–9.
Misawa, N., Kajiwara, S., Kondo, K., Yokoyama, A., and
Satomi, Y. 1995a. Canthaxanthin biosynthesis by the
conversion of methylene to keto groups in a hydrocarbon
carotene by a single gene. Biochem. Biophys.
Res. Commun. 209:867–76.
Misawa, N., Satomi, Y., Kondo, K., Yokoyama, A., and
Kajiwara, S. 1995b. Structure and functional analysis
of a marine bacterial carotenoid biosynthesis
gene cluster and astaxanthin biosynthetic pathway
proposed at the gene level. J. Bacteriol. 177: 6575–
84.
Misawa, N. and Shimada, H. 1998. Metabolic engineering
for the production of carotenoids in noncarotenogenic
bacteria and yeast. J. Biotechnol.
59:169–81.
Nelis, J.H. and DeLeenheer, P.A. 1991. Microbial sources
of carotenoid pigments used in foods and feeds. J.
Appl. Bacteriol. 70:181–91.
Nishino, H., Tokuda, H., Satomi, Y., Masuda, M., Bu, P.,
Onozuka, M., Yamaguchi, S., Okuda, Y., Takayasu, J.,
Tsuruta, J., Okuda, M., Ichiishi, E., Murakoshi, M., Kato,
T., Misawa, N., Narisawa, T., Takasuka, N., and Yano,
M. 1999. Cancer prevention by carotenoids. Pure Appl.
Chem. 71(12):2273–8.
Niyogi, K.K., Bj ¨orkman, O., and Grossman, AR. 1997.
Chlamydomonas xanthophyll cycle mutants identified
by video imaging of chlorophyll fluorescence
quenching. Plant Cell 9 :1369–80.
Orndorff, S.A., Campbell, EA., Medwid, R.D., and inventors;
1994. Zeasantin producing strains of
Neospongiococcum excentricum. U.S. patent
5,360,730.
Perez-Galvez, A., Martin, H.D., Sies, H., and Wilhelm, S.
2003. Incorporation of carotenoids from paprika
oleoresin into human chylomicrons. Brit. J. Nutr. 89
(6):787–93.
Rodriguez-Amaya, D.B. 2001. General procedure and
sources of errors in carotenoid analysis. In: A Guide
to Carotenoid Analysis in Foods. Intl. Life Sciences
Inst. ILSI Press. Washington, D.C. 23 pp.
Ruther, A., Misawa, N., Boger, P., and Sandmann, G. 1997.
Production of zeasantin in Escherichia coli transformed
with different carotenogenic plasmids. Appl.
Microbiol. Biotechnol. 48:162–7.
Snodderly, D.M. 1995. Evidence for protection against
age-related macular degeneration by carotenoids
and antioxidant vitamins. Am. J. Clin. Nutr. 62
(Suppl):1448S–61S.
Toyomizu, M., Sato, K., Taroda, H., and Kato, T. Akiba Y.
2001. Effects of dietary of Spirulina on meat color
muscle of broiler chickens. Br. Poult. Sci. 42:197–
202.
Walton, D.C. and Li, Y. 1995. Abscisic acid biosynthesis
and metabolism. In: Davies PJ, editor. Plant Hormones.
Dordrecht, the Netherlands: Kluwer Academic
Publishers. p. 140–57.
Yuan, L.Z., Pierre, E., Rouvière, Robert , A., LaRossa,
and Wonchul, Suh. 2006. Chromosomal promoter
replacement of the isoprenoid pathway for enhancing
carotenoid production in E. coli. Metabolic. Engineering
8: 79–90.
Zeevaart, J.A.D. and Creelman, RA. 1988. Metabolism
and physiology of abscisic acid. Ann. Rev.Plant.
Physiol. Plant. Mol. Biol. 39:439–73.
BIOSINTESIS DAN PEMANFAATANNYA
Dispanstiani Abidin dan Ferry Karwur*)
ABSTRAK
Karotenoid merupakan pigmen alami yang disintesis oleh semua organisme fotosintetik, serta sejumlah bakteri dan jamur non-fotosintetik. Ada dua pengelompokan karotenoid alami: (1) karoten, seperti β-karoten dan α-karoten, dan (2) santofil. Umumnya santofil seperti violasantin, antherasantin, zeasantin, neosantin, dan lutein diproduksi oleh tumbuhan tingkat tinggi, namun juga dapat disintesis oleh mikroalga hijau. Zeasantin merupakan salah satu pigmen yang berperan penting dalam pencegahan penyakit degenerasi makular akibat usia (AMD). Produksi
zeasantin dapat dilakukan oleh beberapa mikroalga seperti Spirulina sp., Dunaliella salina, Chlamydomonas reinhardtii, Synechocystis, Microcystis aeruginosa, dan Porphyridium cruentum.
Artikel ini akan membahas mengenai biosintesis zeasantin serta pemanfaatannya.
PENDAHULUAN
Karotenoid adalah poliena isoprenoid yang tersusun dari 8 unit isoprena C5 (Gross, 1987).
Karotenoid dibagi menjadi dua kelompok yaitu karoten dengan rumus hidrokarbon C40H56 dan turunannya yaitu santofil. Santofil meliputi v iolasantin, antherasantin, zeasantin, neosantin, dan lutein (Gross, 1991).
Hampir semua organisme fotosintetik seperti tumbuhan, alga, dan bakteri fotosintetik mengakumulasikan karotenoid pada periperal antena yang terletak pada membran fotosintetik. Pada antena, karotenoid berfungsi sebagai light harvester untuk menyerap cahaya yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar pada mesin fotosintesis. Fungsi karotenoid sebagai photo-protection (fotoprotektor) bertujuan menghindari terbentuknya singlet-oxygen yang sangat berbahaya.
Dari segi manfaat, karotenoid pada manusia memberikan perlindungan sel dari efek karsinogenesis radikal bebas seperti kanker dan penyakit jantung. Kajian ilmiah ini bertujuan mengetahui biosintesis pigmen zeasantin serta pemanfaatannya sehingga dapat diketahui fungsi zeasantin lebih luas. Artikel ini akan membahas mengenai: jalur biosintesis, sumber zeasantin dari mikroalga, serta pemanfaatan zeasantin.
Nama lain zeasantin adalah (3R,3’R)-β,β-karoten- 3,3’-diol. Zeasantin memiliki formula C40H56O2, berwarna oranye dan kuning (Nelis and DeLeenheer 1991; Handelman et al., 1999; Humphries & Khachik, 2003). Zeasantin tidak menunjukkan aktivitas vitamin A. Zeasantin dan lutein memiliki hubungan dekat yang memegang peranan penting dalam pencegahan penyakit degenerasi makular akibat usia (AMD), serta penyebab kebutaan (Hadden et al., 1999).
Zeasantin merupakan molekul seperti poliena yang memiliki 9 ikatan karbon tunggal dan rangkap terkonjugasi. Ketika dieksitasi dengan cahaya monokromatik menunjukkan karakteristik panjang gelombang yang elastis dengan hamburan cahaya balik, disebabkan oleh vibrasi dalam struktur kimianya. Dua karakteristik puncak karotenoid menunjukkan adanya gerakan vibrasi molekul pada ikatan tunggal karbon 1159 cm-1 dan ikatan rangkap karbon dengan vibrasi 1525 cm-1 (Bhosale et al., 2003).
Afinitas absorpsi ditentukan oleh panjang kromofor dan polaritas dari gugus fungsionalnya. Semua isomer 113 trans memiliki serapan yang kuat pada panjang gelombang 400-500 nm, sedangkan isomer cis menunjukkan serapan pada wilayah UV, sekitar 320 nm (Rodriguez-Amaya, 2001). Spektrum tampak dari zeasantin menyerupai β-karoten.Serapan sinar ultraviolet dan sinar tampak zeasantin dapat dilihat pada
Tabel 1 dan Gambar 2.
JALUR BIOSINTESIS
Biosintesis karotenoid berawal dari farnesil piropospat (FPP), yang berasal dari dua prekursor, isopentenil piropospat (IPP) dan dimetilalil piropospat (DMAPP). Secara umum, ada dua jalur untuk
Gambar 1. Struktur kimia zeasantin (Britton, 1995).
mensintesis IPP dan DMAPP yaitu mevalonate (dimulai dengan asetil KoA) dan non-mevalonate (dimulai dengan piruvat dan glyceraldehyde-3-pospat). Biosintesis karotenoid pada mikroalga menggunakan jalur non-mevalonate (Yuan et al., 2006). Prekursor isoprena dari karotenoid dan semua terpenoid adalah isopentenil piropospat (IPP). IPP diisomerisasi menjadi DMAPP, lalu DMAPP berikatan dengan IPP
membentuk C10 geranil piropospat (GPP). GPP bergabung dengan 2 molekul IPP membentuk C15 FPP, FPP bergabung lagi dengan IPP membentuk C20 geranilgeranil piropospat (GGPP). GGPP digunakan
untuk membentuk diterpen, seperti karotenoid (Gross, 1991).
Karotenoid Pelarut λ max nma
Aseton (430) 452 479
Kloroform (433) 462 493
Etanol (428) 450 478
Petroleum eter (424) 449 476
Zeasantin
Tabel 1. Serapan sinar ultraviolet dan sinar tampak dari zeasantin
a tanda kurung menunjukkan bahu, Sumber : Britton, 1995
Gambar 2. Pola spektra zeasantin, pelarut aseton (Davies, 1976; Britton, 1995).
300 400 500 600
0,0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
Absorbansi (A.U)
Panjang Gelombang (nm)
Squalen Vol. 4 No. 3, Desember 2009
114
Tahap unik pertama pada biosintesis karotenoid adalah kondensasi 2 molekul GGPP menjadi fitoen. Senyawa ini dibentuk oleh C40 siklopropana intermediet, prefitoen piropospat (PPPP) (Altman et al., 1972). Dari fitoen, likopen dapat dibentuk dengan cara dehidrogenasi. Pada tiap tahap proses dehidrogenasi, kromofor diperpanjang oleh 2 ikatan rangkap secara bergantian dari salah satu sisinya. Siklisasi juga terjadi pada karoten yang memiliki minimal ikatan rangkap pada C-7 dan 8. Pemasukan gugus fungsi oksigen, hidroksi, dan epoksi terjadi setelah proses siklisasi yang merupakan tahap akhir dari biosintesis ketika karoten dioksidasi. Perbedaanperbedaan dalam hal reaksi siklisasi, dehidrogenasi, dan oksidasi menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam jenis karotenoid yang dihasilkan (Gambar 3). Enzim yang terlibat dalam jalur biosintesis ini adalah
CrtE, CrtB, CrtL (likopen), CrtY (β-karoten), dan CrtZ
(zeasantin) (Yuan et al., 2006).
Beberapa penelitian biosintesis santofil dilakukan dengan alga dan bakteri. Pada tumbuhan tingkat rendah seperti halnya pada mikroalga, zeasantin dibentuk melalui hidroksilasi β-karoten. Karotenoid epoksi dapat dibentuk dari oksidasi karoten atau santofil. Sebagai contoh violasantin yang dibentuk dari epoksidasi zeasantin melalui antherasantin, yang merupakan suatu monoepoksi (Davies et al., 1970).
Pada mutasi alga hijau Chlamydomonas reinhardtii (Niyogi et al., 1997) ditemukan gen penyandi tunggal untuk enzim epoksidase zeasantin. Gen tunggal tersebut bertanggung jawab pada biosintesis yaitu dari violasantin selama pertumbuhan dan reaksi epoksidasi yang mendorong ke arah reaksi balik (reversible) dari zeasantin melalui antherasantin ke violasantin setelah adanya tekanan cahaya (Niyogi et al., 1997; Jin et al., 2003).
Pada mikroalga, kandungan zeasantin diregulasi oleh radiasi cahaya. Jika radiasi cahaya berlebihan pada fotosintesis maka akan mengakibatkan saturasi dalam kloroplas yang memicu terjadinya reaksi de-epoksidasi violasantin berbalik (reversible) ke bentuk antherasantin, dan selanjutnya mengakumulasi zeasantin dalam tilakoid kloroplas. Enzim yang mengkatalisis reaksi tersebut adalah violasantin de-epoksidase yang berada dalam lumen tilakoid kloroplas (Hager & Holocher, 1994).
Jika cahaya yang diserap lebih rendah dari yang diperlukan pada fotosintesis, zeasantin dikonversi kembali ke violasantin oleh enzim zeasantin epoksidase dengan monoepoksida antherasantin yang menjadi perantara dalam proses oksidasi-reduksi (Hager, 1980). Siklus santofil penting untuk perlindungan komponen fotosintesis dari fotooksidasi zeasantin, antherasantin Gambar 3. Senyawa prekursor, karoten utama, santofil dan enzim yang terlibat pada jalur biosintesis karotenoid. DMAPP: dimetilallil piropospat; FPP : farnesil piropospat; GGPP : geranilgeranil piropospat; IPP : isopentenil piropospat; crtE dan crtB: tidak berwarna; crtL: likopen (merah muda); crtY: β-kaoten (oranye); crtZ: zeasantin (kuning) (Yuan et al., 2006).
D. Abidin dan F. Karwur 115 dan violasantin yang berhubungan dengan pemanen cahaya (Demmig-Adams & Adams, 1992).
Zeasantin mampu menggantikan hilangnya epoksi karotenoid, antherasantin, violasantin, dan neosantin sebagai komponen kestabilan pemanenan cahaya (LHC II). Secara genetika, bakteri dan tumbuhan pada jalur biosintesis zeasantin, kantasantin, dan astasantin memberikan alternatif yang menarik dalam produksi secara in vivo (Misawa, 1995a, 1995b; Misawa & Shimada, 1998). Sebagai contoh, alga biruhijau dapat direplikasi pada plasmidnya dengan gengen endogen oleh rekombinasi homolog (Lagarde et
al., 2000).
Synecocystis sp. strain PCC 6830 telah digunakan sebagai transformasi inang untuk memproduksi zeasantin in vivo. SUMBER ZEASANTIN DARI MIKROALGA Dunaliella salina Beberapa mikroalga menghasilkan zeasantin (Ruther et al., 1997; Jin et al., 2003). Produksi zeasantin strain mutan zea1 ari Dunaliella salina dapat dipertimbangkan dalam eksploitasi komersial (Jin et al., 2001, 2003). Strain mutan ini memiliki kekurangan dalam tahap epoksidasi-zeasantin. Mutan zea1 kekurangan neosantin, violasantin, dan antherasantin tetapi mengakumulasi zeasantin dalam membran tilakoid di bawah kondisi pertumbuhan normal. Di bawah kondisi cahaya rendah, strain mutan memiliki kandungan zeasantin 15 kali lebih tinggi daripada tipe liar. Salah satu usaha untuk menghasilkan produksi zeasantin adalah menggunakan mesin metabolisme strain E.coli dengan menghasilkan zeasantin 1,6 mg/g dari berat kering (Albrecht et al., 1999; Jin et al., 2003). Synechocystis sp. Zeasantin pada Synechocystis sp. PCC6714 berada di luar membran. Pada percobaan untuk meningkatkan akumulasi zeasantin pada prokariotik fotoautotrofik Synechocystis sp. strain PCC 6803, digunakan gen-gen yang terlibat dalam sintesis karotenoid. Synechocystis sp. dapat meningkatkan akumulasi zeasantin pada strain mutan hingga 2,5 kali. Dengan menggunakan gen psbAII, organisme tersebut mengkode ekspresi protein D1 dari fotosistem II dan merupakan promotor yang kuat. Genom Synechocystis mengandung 3 gen pengkode protein D1 yaitu psbAI, psbAII, dan psbAIII. Lokus psbAII dapat digunakan sebagai bentuk integrasi ekspresi gen pada Synechocystis sp. (Lagarde et al., 2000).
Microcystis aeruginosa
Mikroalga Microcystis aeruginosa dapat memproduksi zeasantin (Chen et al., 2005).
Spirulina
Spirulina biasa digunakan sebagai pakan alami dalam budidaya udang. Satu parameter penting dalam budidaya udang yaitu adanya peningkatan produksi zeasantin yang ditandai warna kulit karapaks.
Zeasantin merupakan salah satu karotenoid utama pada Spirulina yang dengan cepat dikonversi menjad iastasantin (Liao et al., 1993). Spirulina juga meningkatkan pewarnaan kuning dan merah ayam petelur karena akumulasi zeasantin (Toyomizu et al., 2001).
PEMANFAATAN ZEASANTIN
Pemanfaatan karotenoid secara epidemiologi berhubungan dalam menurunkan resiko beberapa kanker dan AMD (Perez-Galves et al., 2003). Karotenoid dilaporkan penting sebagai faktor pelindung dalam epitelium retina pada bayi. Selain itu, penggunaan zeasantin dalam kosmetik, khususnya sebagai pelindung matahari, adalah sejalan dengan fungsi alami sebagai pelindung sel dari fotosensitisasi. Sejauh ini, pemanfaatan lain dari zeasantin yang dilaporkan adalah: Mencegah Age-related Macular Degeneration (AMD)
AMD merupakan penyebab kebutaan pada orang dewasa karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada pusat retina dan makula, yang akhirnya mendorong ke arah hilangnya kemampuan melihat. Lutein dan zeasantin berperan dalam pencegahan AMD. Zeasantin terakumulasi pada daerah makular retina manusia, di mana akan mencegah kerusakan oleh energi tinggi pada cahaya biru melalui karakteristik antioksidannya (Britton, 1995; Handelman et al., 1988; Snodderly, 1995).
Menghambat Oksidasi LDL
Karotenoid memegang peranan penting dalam menghambat makrofag dalam oksidasi LDL. Ketika zeasantin diinkubasi dengan makrofag-monosit manusia selama 24 jam dengan lipoprotein (LDL) rendah telah ditemukan dapat menghambat oksidasi LDL pada konsentrasi tertentu, sehingga zeasantin memperlambat terjadinya atherosklerosis (Keri et al., 1997). Squalen Vol. 4 No. 3, Desember 2009 116
Mencegah Kanker
Zeasantin dapat mencegah kanker. Secara spontan karsinogenesis liver dalam C3H/ He pada mencit jantan telah diuji ketika diberi makan 40 wk zeasantin pada konsentrasi 0,005% dan dicampur sebagai emulsi dalam air minum (Nishino et al., 1999;
Perez-Galves et al., 2003).
Pigmentasi pada Ternak Unggas dan Ikan
Zeasantin lebih banyak digunakan dalam meningkatkan pewarnaan pakan ternak dan ikan karena potensinya sebagai pewarna dan memiliki kemampuan dapat diserap dalam daging dan telur (Orndorff et al., 1994). Zeasantin 1,5 kali lebih kuat daripada lutein. Beberapa ikan dan krustasea, seperti udang dan ikan mas dapat mengubah zeasantin ke pigmen berwarna merah yaitu astasantin. Hal ini menunjukkan bahwa memberi makan pada ikan dan udang-udangan dari zeasantin tersebut dapat meningkatkan warna merah yang diinginkan (Gierhart, 1994).
PENUTUP
Zeasantin sangat berperan pada pencegahan AMD, menghambat oksidasi LDL, mencegah kanker dan pigmentasi pada ternak unggas dan ikan. Sumber zeasantin dapat ditemukan pada Spirulina sp., Dunaliella salina, Chlamydomonas reinhardtii, synechocystis, Microcystis aeruginosa, dan Porphyridium cruentum. Perlu adanya peningkatan pengelolaan pemanfaatan mikroalga sebagai salah satu sumber zeasantin.
DAFTAR PUSTAKA
Albrecht, M., Misawa, N., and Sandmann G. 1999.
Metabolic engineering of the terpenoid biosynthetic
pathway of Escherichia coli for production of the
carotenoids β-carotene and zeaxanthin. Biotechnol.
Lett. 21:791–5.
Bhosale, P., Ermakov, IV., Ermakova, M.R., Gellermann,
W., and Bernstein, P.S. 2003. Resonant raman
quantification of zeaxanthin production from Flavobacterium
multivorum. Biotechnol. Lett. 25:1007–11.
Britton, G. 1995. Structure and properties of carotenoids
in relation to function. FASEB. J. 9:1551–8.
Chen, F., Li , HB., Wong, RN., Ji, B., Jiang, Y. 2005.
Isolation and purification of the bioactive carotenoid
zeaxanthin from the microalga Microcystis
aeruginosa by high-speed countercurrent chromatography.
J. Chromatogr. A. 1064 (2):183–6.
Davies, B.H. 1976. Carotenoids. In: Goodwin TW, editor.
Chemistry and Biochemistry of Plant Pigments. 2nd
ed. London, U.K.: Academic Press. 38 pp.
Demmig-Adams, B., Adams, W.W. 1992. Photoprotection
and other responses of plants to high light stress.
Ann. Rev. Plant. Physiol. Plant. Mol. Biol. 43:599–
626.
Gierhart, D.L. 1994. Applied Food Biotechnology Inc.,
Production of Zeaxanthin and Zeaxanthin-Containing
Compositions. U.S. patent 5,308,759.
Giraudat, J., Parcy, F., Bertauche, N., Gosti, F., Leung, J.,
Morris, P.C., Bouvier-Durand, M., and Vartanian, N.
1994. Current advances in abscisic acid action and
signalling. Plant Mol Biol 26:1557–77.
Gross, J. 1987. Pigment in Fruits. Academic Press Inc.
London.
Gross, J. 1991. Pigment in Vegetables : Chlorophylls
and Carotenoids. Van Nostrand Reinhold, New York.
Hadden, W.L., Watkins, R.H., Levy, L.W., Regalado, E.,
Rivadeneira, D.M,, van Breemen RB., and Schwartz,
S.J. 1999. Carotenoid composition of marigold
(Tagetes erecta) flower extract used as nutritional
supplement. J. Agric. Food. Chem. 47:4189–94.
Hager, A. 1980. The reversible, light-induced conversions
of xanthophylls in the chloroplast. In: Czygan FC,
editor. Pigments in Plants. Stuttgart: Fischer. p. 57–
79.
Hager, A. and Holocher, K. 1994. Localization of the xanthophyll-
cycle enzyme violaxanthin deepoxidase
within the thylakoid lumen and abolition of its mobility
by a (light dependent) pH decrease. Planta
192:581–9
Handelman, G.J., Dratz, E.A., Reay, C.C., and Kuijk, FJGM.
1988. Carotenoids in human macula and whole
retina. Invest. Opthalmol. Vis. Sci. 29:850–55.
Handelman, G.J,, Nightingale, Z.D., Lichtenstein, AH.,
Schaefer, E.J., and Blumberg, J.B. 1999. Lutein
and zeaxanthin concentrations in plasma after dietary
supplementation with egg yolk. Am. J. Clin. Nutr.
70:247–51.
Humphries, J.M. and Khachik, F. 2003. Distribution of
lutein, zeaxanthin, and related geometrical isomers
in fruit, vegetables, wheat, and pasta products. J.
Agric. Food. Chem. 51: 1322–7.
Jin, E.S., Polle, JWE., and Melis, A. 2001. Involvement of
zeasantin and of the Cbr protein in the repair of photosystem-
II from photoinhibition in the green alga
Dunaliella salina. Biochim. Biophys. Acta. 1506:244–
59.
Jin, E.S., Feth, B., and Melis, A. 2003. A mutant of the
green alga Dunaliella salina constitutively accumulates
zeaxanthin under all growth conditions. Biotech.
Bioeng. 81:115–24.
Jurgens, U.J. and Weckesser, J. 1985. Carotenoidcontaining
outer membrane of Synechocystis sp.
strain PCC6714. J. Bacteriol. 164(1):384–9.
Keri, L., Carpenter, H., Veen, C., Hird, R., Dennis, IF.,
Ding, T., and Mitchinson, MJ. 1997. The carotenoids
â-carotene, canthaxanthin and zeasantin inhibit macrophage-
mediated LDL oxidation. FEBS 18094 FEBS
Lett 401:262–6.
Lagarde, D., Beuf, L., and Vermaas, W. 2000. Increased
production of zeasantin and other pigments by
D. Abidin dan F. Karwur
117
application of genetic engineering techniques to
Synechocystis sp. strain PCC 6803. Appl. Environ.
Microbiol. 66:64–72.
Liao, W.L., Nur-E-Borhan, S.A., Okada, S., Matsui, T., and
Yamaguchi, K. 1993. Pigmentation of cultured black
tiger prawn by feeding with a Spirulina supplemented
diet. Nippon Suisan Gakkaishi/Bull Japan Soc. Sci.
Fisher. 59:165–9.
Misawa, N., Kajiwara, S., Kondo, K., Yokoyama, A., and
Satomi, Y. 1995a. Canthaxanthin biosynthesis by the
conversion of methylene to keto groups in a hydrocarbon
carotene by a single gene. Biochem. Biophys.
Res. Commun. 209:867–76.
Misawa, N., Satomi, Y., Kondo, K., Yokoyama, A., and
Kajiwara, S. 1995b. Structure and functional analysis
of a marine bacterial carotenoid biosynthesis
gene cluster and astaxanthin biosynthetic pathway
proposed at the gene level. J. Bacteriol. 177: 6575–
84.
Misawa, N. and Shimada, H. 1998. Metabolic engineering
for the production of carotenoids in noncarotenogenic
bacteria and yeast. J. Biotechnol.
59:169–81.
Nelis, J.H. and DeLeenheer, P.A. 1991. Microbial sources
of carotenoid pigments used in foods and feeds. J.
Appl. Bacteriol. 70:181–91.
Nishino, H., Tokuda, H., Satomi, Y., Masuda, M., Bu, P.,
Onozuka, M., Yamaguchi, S., Okuda, Y., Takayasu, J.,
Tsuruta, J., Okuda, M., Ichiishi, E., Murakoshi, M., Kato,
T., Misawa, N., Narisawa, T., Takasuka, N., and Yano,
M. 1999. Cancer prevention by carotenoids. Pure Appl.
Chem. 71(12):2273–8.
Niyogi, K.K., Bj ¨orkman, O., and Grossman, AR. 1997.
Chlamydomonas xanthophyll cycle mutants identified
by video imaging of chlorophyll fluorescence
quenching. Plant Cell 9 :1369–80.
Orndorff, S.A., Campbell, EA., Medwid, R.D., and inventors;
1994. Zeasantin producing strains of
Neospongiococcum excentricum. U.S. patent
5,360,730.
Perez-Galvez, A., Martin, H.D., Sies, H., and Wilhelm, S.
2003. Incorporation of carotenoids from paprika
oleoresin into human chylomicrons. Brit. J. Nutr. 89
(6):787–93.
Rodriguez-Amaya, D.B. 2001. General procedure and
sources of errors in carotenoid analysis. In: A Guide
to Carotenoid Analysis in Foods. Intl. Life Sciences
Inst. ILSI Press. Washington, D.C. 23 pp.
Ruther, A., Misawa, N., Boger, P., and Sandmann, G. 1997.
Production of zeasantin in Escherichia coli transformed
with different carotenogenic plasmids. Appl.
Microbiol. Biotechnol. 48:162–7.
Snodderly, D.M. 1995. Evidence for protection against
age-related macular degeneration by carotenoids
and antioxidant vitamins. Am. J. Clin. Nutr. 62
(Suppl):1448S–61S.
Toyomizu, M., Sato, K., Taroda, H., and Kato, T. Akiba Y.
2001. Effects of dietary of Spirulina on meat color
muscle of broiler chickens. Br. Poult. Sci. 42:197–
202.
Walton, D.C. and Li, Y. 1995. Abscisic acid biosynthesis
and metabolism. In: Davies PJ, editor. Plant Hormones.
Dordrecht, the Netherlands: Kluwer Academic
Publishers. p. 140–57.
Yuan, L.Z., Pierre, E., Rouvière, Robert , A., LaRossa,
and Wonchul, Suh. 2006. Chromosomal promoter
replacement of the isoprenoid pathway for enhancing
carotenoid production in E. coli. Metabolic. Engineering
8: 79–90.
Zeevaart, J.A.D. and Creelman, RA. 1988. Metabolism
and physiology of abscisic acid. Ann. Rev.Plant.
Physiol. Plant. Mol. Biol. 39:439–73.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar