PERKEMBANGAN RIBOSOME-INACTIVATING PROTEIN (RIP) SEBAGAI ANTIKANKER
RECENT DEVELOPMENT of RIBOSOME-INACTIVATING PROTEINS (RIPs)
as ANTICANCER
Sudjadi dan Sismindari
Fakultas Farmasi UGM
ABSTRAK
Ribosome-inactivating protein (RIP) merupakan protein yang umumnya berasal dari tanaman dan bersifat sitotoksik terhadap sel mamalia. Hal ini karena aktivitas rRNA N-glikosidae dan purin glikosidase sehingga menyebabkan kematian sel mamalia. Selain itu berbagai RIP juga mampu menginduksi apoptosis bagi sel yang rusak, dan bersifat antioksidan, sehingga RIP merupakan kandidat antikanker yang baik. RIP dapat dikonjugasikan dengan antibodi monoklonal sebagai imunotoksin sehingga mempunyai efek yang selekif hanya terhadap sel target.
Kata kunci: Ribosome-inactivating protein (RIP), antikanker, imunotoksin
Selasa, 17 Januari 2017
Alasan Kurkumin Efektif Mempercepat Penyembuhan Luka di Kulit
Majalah Farmasetika (V1N5-Juli 2016).
Curcumin/kurkumin
yang merupakan senyawa utama dari Kunyit (Curcuma longa) dan Temulawak
(Curcuma Xanthoriza), baru-baru ini banyak penelitian terkait potensinya
yang mampu mempercepat proses penyembuhan luka di kulit baik luka akut
maupun kronis.
Semua
orang pasti pernah mengalami luka di kulit baik itu terjatuh maupun
karena kecelakaan yang tidak terduga lainnya. Waktu penyembuhan luka
tergantung dari berbagai faktor, termasuk kondisi dari pasien. Pasien
yang memiliki riwayat diabetes berpotensi mengalami luka kronis atau
proses penyembuhannya terganggu secara natural . Pada luka diabetes, jumlah neutrofil pada tempat luka meningkat pesat
sebagai akibat adanya reaksi radikal bebas oksigen yang tinggi, selain
itu mediator peradangan/inflamasi meningkat menyebabkan timbul
peradangan hebat di kulit. Matrik ekstraselular terdegradasi karena
aktivitas degradasi dari growth factor yang menyebabkan sel
tidak mampu untuk berproliferasi sehingga aktivitas penyembuhan luka
terhambat bahkan rentan ditumbuhi bakteri.
Kunyit dan temulawak merupakan tanaman obat yang melimpah di
Indonesia dan ternyata kurkumin memiliki prospek cerah sebagai senyawa
yang mampu memercepat pengobatan luka.
Apa itu kurkumin?
Kurkumin (diferuloylmethane) adalah kurkuminoid utama dalam kunyit
dan temulawak yang bertanggung jawab untuk warna kuning. Kurkumin telah
terbukti memiliki aktivitas anti-inflamasi, anti-oksidan,
anti-karsinogenik, anti-mutagenik, anti-koagulan dan efek anti-infeksi.
Selain itu, curcumin juga telah terbukti meningkatkan kemampuan
penyembuhkan luka secara signifikan.
Mekanisme kurkumin dalam membantu menyembuhkan luka
Secara natural, ada 4 tahapan proses penyembuhan luka dimana setiap
tahapannya saling tumpang tindih. Tahapan itu adalah hemostatis,
inflamasi/peradangan, proliferasi, dan remodeling.
Tahap hemostasis dimulai segera setelah terjadinya luka, melalui
agregasi platelet dan pembentukan bekuan fibrin. Kemudian, tahap
inflamasi dapat diidentifikasi dengan adanya neutrofil untuk
penghilangan kotoran luka serta makrofag yang melepaskan sitokin pada
lokasi luka. Pada tahap proliferatif, fibroblas menembus luka dan
mendeposit matriks ekstraselular baru untuk memulai proses
re-epitelisasi. Akhirnya, sintesis kolagen dan myofibroblasts
memfasilitasi proses remodeling jaringan lebih lanjut. Semua tahapan
harus terjadi dalam urutan yang benar dan jangka waktu yang tepat untuk
memastikan kesembuhan secara total.
Efek dari kurkumin pada luka pada setiap fase penyembuhan terangkum dibawah ini
Graphical abstract : Curcumin as a wound healing agent, Life Sciences, Volume 116, Issue 1, 22 October 2014, Pages 1–7
Tahap Inflamasi
• Menghambat transkripsi aktivitas faktor NF (κ) B, mengurangi produksi
sitokin TNF-α dan IL-1 sehingga mampu mengurangi peradangan
• Menurunkan radikal bebas ROS (pada dosis rendah dari kurkumin)
• Meningkatkan pembentukan ROS (pada dosis lebih tinggi dari kurkumin)
• Meningkatkan atau menurunkan produksi enzim anti-oksidan (tergantung dosis)
Tahap Proliferasi
• Meningkatkan migrasi fibroblast, pembentukan jaringan granulasi, deposisi kolagen, dan secara umum re-epitelisasi
• Menjadi apoptosis pada fase awal penyembuhan luka, sehingga
menghilangkan sel-sel inflamasi yang tidak diinginkan di tempat luka
Remodeling
• Meningkatkan kontraksi luka dengan meningkatkan produksi TGF-β dan karena itu mampu meningkatkan proliferasi fibroblast
Banyak penelitian pra-klinis telah menunjukkan bahwa kurkumin mampu
bekerja pada fase inflamasi, proliferasi dan remodeling dari proses
penyembuhan luka sehingga mampu mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk
penyembuhan luka.
Sayangnya, senyawa kurkumin dibatasi oleh sifat bioavailabilitas yang
rendah, metabolisme yang cepat, kelarutan rendah dan sensitivitas
terhadap cahaya. Untuk meminimalkan efek tersebut dan untuk dapat
menggunakan kurkumin secara maksimal, maka dibutuhkan formulasi baru
seperti bentuk nanopartikel atau kompleksasi dengan siklodekstrin yang
harus dieksplorasi.
Selain itu, hingga saat ini penelitian belum sampai ke tahap pengujian klinis.
Sumber : Dania Akbik, Maliheh Ghadiri, Wojciech Chrzanowski, Ramin Rohanizadeh. Curcumin as a wound healing agent, Life Sciences, Volume 116, Issue 1, 22 October 2014, Pages 1–7