Rabu, 22 Maret 2017

Tinjauan Molekuler Herbal Imunomodulator (Zullies Ikawati)



Zullies Ikawati

            Tinjauan molekuler herbal imunomodulator

Topik yang diminta oleh panitia kepadaku adalah “Tinjauan molekuler herbal imunomodulator”. Suer,.. itu topik yang ngga ringan. Setidaknya ada tiga “kata kunci” yang harus dipahami lebih dulu… Yang pertama, imunomodulator. Berbicara tentang imunomodulator tentu harus memahami dulu tentang sistem imun. Dan sistem imun adalah sistem paling kompleks dalam tubuh kita karena melibatkan berbagai sel-sel inflamatori dan puluhan protein mediator, seperti sitokin, limfokin, dll.  Yang kedua, obat herbal. Ini adalah sebuah tantangan tersendiri karena sediaan herbal berisi berbagai senyawa yang masing-masing juga memiliki aksi sendiri. Dan bicara tentang penelitian herbal di Indonesia, aku melihat satu tingkat penelitian yang sifatnya “nanggung” dan masih superfisial sekali. Yang sampai ke penelitian uji klinik hingga dipercaya penggunaannya oleh klinisi masih sangat sedikit, sementara di sisi lain yang advanced sampai ke tingkat molekuler juga sangat terbatas. Yang ada adalah kajian diversifikasi efek sediaan herbal yang baru dalam tataran preklinik, atau bahkan in vitro. Akhirnya yang muncul adalah suatu informasi bahwa satu macam sediaan herbal memiliki efek A, B,C,D, sampai Z.  Dan ketika kita kejar sampai klinis ternyata tidak terbukti, sementara dikejar ke aras molekuler juga tidak bisa. Namun demikian ini adalah tantangan kita bersama. Kata kunci ketiga adalah kajian molekuler. Ini juga bukan kajian yang simple karena melibatkan aneka molekul sebagai second messenger, melalui berbagai transduksi signal, sampai dicapainya suatu efek seluler.
Namun demikian aku berusaha untuk memaparkan sebisaku, dan memberikan contoh beberapa herbal beserta mekanisme molekulernya sebagai imunomodulator. Istilah imunomodulator sendiri merujuk pada suatu agen yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu, atau menekan yang fungsinya berlebihan. Pada kondisi di mana sistem imun hiperreaktif, baik terhadap paparan dari luar maupun dari dalam tubuh, maka diperlukan suatu imunosupresan. Sebaliknya, jika sistem imun terlalu lemah dan kurang reaktif sehingga tidak mampu melawan patogen yang masuk, maka diperlukan suatu imunostimulan. Telah banyak obat-obat sintetik yang bekerja sebagai imunomodulator, baik sebagai imunostimulan maupun imunosupresan. Herbal dapat pula menjadi sumber senyawa imunomodulator. Sebagian telah digunakan secara empirik oleh masyarakat dan dipercaya sebagai penguat daya tahan tubuh. Beberapa diantaranya adalah Curcuma sp, Rhododendrum spiciferum, Caesalpinia sp, Panax ginseng, Echinacea purpurea, Calendula officinalis, dll.
Hingga saat ini, tinjauan terhadap mekanisme aksi herbal sampai dengan tingkat molekuler masih sangat terbatas. Hal ini dipersulit dengan banyaknya komponen fitokimia dalam suatu sediaan herbal. Efek seluler suatu sediaan obat herbal umumnya merupakan efek beberapa senyawa secara simultanpada berbagai target, yang saling komplementer. Padahal, mekanisme molekuler hanya menggambarkan interaksi satu senyawa aktif dengan satu molekul target. Mekanisme molekuler bisa menjelaskan aktivitas farmakologi tertentu suatu obat herbal dengan asumsi bahwa hanya ada satu senyawa yang beraksi, dan senyawa lain tidak berinteraksi. Namun karena faktanya sediaan herbal itu multikomponen, maka mekanisme molekuler satu komponen obat herbal pada satu target molekuler tidak selalu menggambarkan overall effect suatu obat herbal pada sistem biologis.
Dalam mengkaji mekanisme molekuler suatu imunodilator dari herbal, kesulitan lebih banyak dijumpai karena signaling pada sistem imun sangat kompleks dan saling kait mengait. Target molekuler yang telah banyak dipelajari adalah NFkB, suatu regulator transkripsi gen, yang berperan penting dalam regulasi ekspresi gen pro-inflammatory pada berbagai sel. NF-κB teraktivasi tinggi di tempat inflamasi pada berbagai penyakit imunitas dan menginduksi transkripsi berbagai molekul pro-inflamatory seperti sitokin, chemokin, molekul adhesi, oksida nitrat, matriks metaloproteinase, dll. Dalam paparan ini hanya akan dibahas dua macam herbal imunomodulator yang telah banyak diteliti, yaitu Curcuma sp mewakili golongan imunosupresan, dan Echinacea sp mewakili golongan imunostimulan.
https://zulliesikawati.files.wordpress.com/2013/10/curcumin-nfkb.jpg
Curcumin sebagai inhibitor jalur signaling NFKB
Curcumin sebagai senyawa aktif dari Curcuma sp telah banyak dilaporkan memiliki aktvitas antiinflamasi, anti alergi, antioksidan, antikanker, dll. Curcumin menjalankan aksinya melalui beberapa mekanisme molekuler, salah satunya dalam menghambat aktivitas NFkB, dengan cara memblok signal yang mengaktifkan IkB kinase (IKK), yang pada gilirannya akan menghambat sintesis berbagai mediator inflamasi.  Selain itu, penelitian lain melaporkan bahwa curcumin juga bekerja menghambat aktivasi limfosit T dengan cara memblok mobilisasi Ca dan menghambat aktivasi NFAT (nuclear factor of activated T cells). Aksi-aksi ini memperantarai aktivitas curcumin sebagai imunosupresan.Sebaliknya, Echinacea sudah banyak dilaporkan memiliki efek imunostimulan dan digunakan secara empirik oleh masyarakat, terutama di Amerika sebagai tempat asalnya. Di tingkat seluler, Echinacea beraksi mengaktifkan proses fagositosis oleh makrofag, memobilisasi leukosit, dan meningkatkan produksi beberapa sitokin, seperti IL-1, IL-6, IL-10, dan TNF-alpha, serta memicu proliferasi limfosit. Echinacea mengandung banyak komponen fitokimia, namun yang dilaporkan memiliki efek imunostimulan adalah senyawa alkylamide, karena itu untuk standarisasi Echinacea disarankan menggunakan senyawa alkylamide-nya. Di tingkat molekuler, Gertsch et al (2004) melaporkan untuk pertamakalinya bahwa senyawa alkilamide dari Echinacea dapat memodulasi ekspresi gen TNF-alpha melalui aktivasi reseptor cannabinoid CB2 dan beberapa transduksi signal lainnya.
Demikian paparan singkatku dalam seminar ini mengenai tinjauan molekuler obat herbal yang digunakan sebagai  imunomodulator. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengungkap berbagai mekanisme molekuler obat herbal, namun demikian tetap tidak boleh dilupakan untuk menguji overall effect-nya dengan uji klinik pada manusia jika memang ingin dikembangkan menjadi herbal unggulan yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan.