Zullies Ikawati
Tinjauan
molekuler herbal imunomodulator
Topik yang diminta oleh panitia
kepadaku adalah “Tinjauan molekuler herbal imunomodulator”. Suer,.. itu
topik yang ngga ringan. Setidaknya ada tiga “kata kunci” yang harus dipahami
lebih dulu… Yang pertama, imunomodulator. Berbicara tentang
imunomodulator tentu harus memahami dulu tentang sistem imun. Dan sistem imun
adalah sistem paling kompleks dalam tubuh kita karena melibatkan berbagai
sel-sel inflamatori dan puluhan protein mediator, seperti sitokin, limfokin,
dll. Yang kedua, obat herbal. Ini adalah sebuah tantangan
tersendiri karena sediaan herbal berisi berbagai senyawa yang masing-masing
juga memiliki aksi sendiri. Dan bicara tentang penelitian herbal di Indonesia,
aku melihat satu tingkat penelitian yang sifatnya “nanggung” dan masih
superfisial sekali. Yang sampai ke penelitian uji klinik hingga
dipercaya penggunaannya oleh klinisi masih sangat sedikit, sementara di sisi
lain yang advanced sampai ke tingkat molekuler juga sangat terbatas.
Yang ada adalah kajian diversifikasi efek sediaan herbal yang baru dalam
tataran preklinik, atau bahkan in vitro. Akhirnya yang muncul adalah suatu
informasi bahwa satu macam sediaan herbal memiliki efek A, B,C,D, sampai
Z. Dan ketika kita kejar sampai klinis ternyata tidak terbukti, sementara
dikejar ke aras molekuler juga tidak bisa. Namun demikian ini adalah tantangan
kita bersama. Kata kunci ketiga adalah kajian molekuler. Ini juga
bukan kajian yang simple karena melibatkan aneka molekul sebagai second
messenger, melalui berbagai transduksi signal, sampai dicapainya suatu efek
seluler.
Namun demikian aku berusaha untuk
memaparkan sebisaku, dan memberikan contoh beberapa herbal beserta mekanisme
molekulernya sebagai imunomodulator. Istilah imunomodulator sendiri merujuk
pada suatu agen yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang
fungsinya terganggu, atau menekan yang fungsinya berlebihan. Pada kondisi di
mana sistem imun hiperreaktif, baik terhadap paparan dari luar maupun dari
dalam tubuh, maka diperlukan suatu imunosupresan. Sebaliknya, jika
sistem imun terlalu lemah dan kurang reaktif sehingga tidak mampu melawan
patogen yang masuk, maka diperlukan suatu imunostimulan. Telah banyak
obat-obat sintetik yang bekerja sebagai imunomodulator, baik sebagai
imunostimulan maupun imunosupresan. Herbal dapat pula menjadi sumber senyawa
imunomodulator. Sebagian telah digunakan secara empirik oleh masyarakat dan
dipercaya sebagai penguat daya tahan tubuh. Beberapa diantaranya adalah Curcuma
sp, Rhododendrum spiciferum, Caesalpinia sp, Panax ginseng, Echinacea purpurea,
Calendula officinalis, dll.
Hingga saat ini, tinjauan terhadap
mekanisme aksi herbal sampai dengan tingkat molekuler masih sangat terbatas.
Hal ini dipersulit dengan banyaknya komponen fitokimia dalam suatu sediaan
herbal. Efek seluler suatu sediaan obat herbal umumnya merupakan efek beberapa
senyawa secara simultanpada berbagai target, yang saling komplementer. Padahal,
mekanisme molekuler hanya menggambarkan interaksi satu senyawa aktif
dengan satu molekul target. Mekanisme molekuler bisa menjelaskan aktivitas
farmakologi tertentu suatu obat herbal dengan asumsi bahwa hanya ada satu
senyawa yang beraksi, dan senyawa lain tidak berinteraksi. Namun karena
faktanya sediaan herbal itu multikomponen, maka mekanisme molekuler satu
komponen obat herbal pada satu target molekuler tidak selalu menggambarkan
overall effect suatu obat herbal pada sistem biologis.
Dalam mengkaji mekanisme molekuler
suatu imunodilator dari herbal, kesulitan lebih banyak dijumpai karena
signaling pada sistem imun sangat kompleks dan saling kait mengait. Target
molekuler yang telah banyak dipelajari adalah NFkB, suatu regulator
transkripsi gen, yang berperan penting dalam regulasi ekspresi gen
pro-inflammatory pada berbagai sel. NF-κB teraktivasi tinggi di tempat
inflamasi pada berbagai penyakit imunitas dan menginduksi transkripsi berbagai
molekul pro-inflamatory seperti sitokin, chemokin, molekul adhesi, oksida
nitrat, matriks metaloproteinase, dll. Dalam paparan ini hanya akan dibahas
dua macam herbal imunomodulator yang telah banyak diteliti, yaitu Curcuma
sp mewakili golongan imunosupresan, dan Echinacea sp mewakili
golongan imunostimulan.
Curcumin sebagai inhibitor jalur
signaling NFKB
Curcumin sebagai senyawa aktif dari Curcuma sp telah banyak
dilaporkan memiliki aktvitas antiinflamasi, anti alergi, antioksidan,
antikanker, dll. Curcumin menjalankan aksinya melalui beberapa mekanisme
molekuler, salah satunya dalam menghambat aktivitas NFkB, dengan cara
memblok signal yang mengaktifkan IkB kinase (IKK), yang pada
gilirannya akan menghambat sintesis berbagai mediator inflamasi. Selain
itu, penelitian lain melaporkan bahwa curcumin juga bekerja menghambat aktivasi
limfosit T dengan cara memblok mobilisasi Ca dan menghambat aktivasi NFAT
(nuclear factor of activated T cells). Aksi-aksi ini memperantarai
aktivitas curcumin sebagai imunosupresan.Sebaliknya, Echinacea sudah
banyak dilaporkan memiliki efek imunostimulan dan digunakan secara empirik oleh
masyarakat, terutama di Amerika sebagai tempat asalnya. Di tingkat seluler, Echinacea
beraksi mengaktifkan proses fagositosis oleh makrofag, memobilisasi leukosit,
dan meningkatkan produksi beberapa sitokin, seperti IL-1, IL-6, IL-10, dan
TNF-alpha, serta memicu proliferasi limfosit. Echinacea mengandung
banyak komponen fitokimia, namun yang dilaporkan memiliki efek imunostimulan
adalah senyawa alkylamide, karena itu untuk standarisasi Echinacea
disarankan menggunakan senyawa alkylamide-nya. Di tingkat molekuler, Gertsch et
al (2004) melaporkan untuk pertamakalinya bahwa senyawa alkilamide dari Echinacea
dapat memodulasi ekspresi gen TNF-alpha melalui aktivasi reseptor cannabinoid
CB2 dan beberapa transduksi signal lainnya.
Demikian paparan singkatku dalam
seminar ini mengenai tinjauan molekuler obat herbal yang digunakan
sebagai imunomodulator. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan
untuk mengungkap berbagai mekanisme molekuler obat herbal, namun demikian tetap
tidak boleh dilupakan untuk menguji overall effect-nya dengan uji klinik
pada manusia jika memang ingin dikembangkan menjadi herbal unggulan yang dapat
dimanfaatkan untuk kesehatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar